Monday, April 23, 2007

KRONOLOGI PENGAKHIRAN HUBUNGAN KERJA KARYAWAN REDAKSI KOMPUTERAKTIF


Kabar tentang rencana pengakhiran kontrak Komputeraktif yang diikuti penutupan majalah lisensi ini sebenarnya sudah lama kami (awak redaksi) dengar. Bahkan, sudah sejak setahun lalu, ketika kami mendapatkan "perpanjangan waktu" selama 1 tahun. Namun, sejak saat itu hingga 21 Maret 2007 lalu, tidak terbayang sedikitpun di pikiran kami bahwa akhirnya kami bakal di-PHK. Sebab, sounding yang dilakukan oleh pihak Manajemen hingga Direktur Majalah selama ini isinya masih sama: nantinya jika Komputeraktif akhirnya tutup, divisi ini tetap akan dipertahankan untuk membuat majalah baru. Apalagi doktrin-doktrin KKG sudah melekat di benak kami, kalau sudah diangkat menjadi karyawan tetap, bekerja dengan baik, tidak akan di-PHK.

Tetapi dalam perjalanannya, dummy dan konsep majalah komputer baru – yang digagas bersama tim Bisnis – tidak juga terkonsep dengan rapi, karena Redaksi belum memperoleh gambaran pasti apa sebenarnya kemauan tim Bisnis. Ada kekhawatiran: menggunakan nama "bule" saja keteteran, apalagi nama lokal. Akhirnya diputuskan untuk tidak dilanjutkan. Maka (mau nggak mau) pilihan jatuh ke majalah Snap – yang sebelumnya merupakan By Product Komputeraktif yang terbit dua bulanan – untuk terus berjalan.

Desember 2000

Ide penerbitan komputeraktif pertama kali dilontarkan oleh Elwin Siregar, pemimpin redaksi Gramedia Majalah Online, kepada sebagian redakturnya pada Desember 2000.

Kemudian tim kecil pun terbentuk, dengan anggota Elwin, Antyo Rentjoko, Eddy Suhardy, Hendra Nizwar, dan Daru Paramayuga. Nama yang dipilih adalah versi Inggris, computeractive, bukan computer idee (Belanda).

10 Mei 2001

Komputerakt!f diluncurkan di NewsCafe, Kemang, Jakarta Selatan. Sambutan konsumen bagus. Mereka merasa mendapatkan friendly magazine. Visualnya bagus dan menghibur, tulisannya jernih dan mudah dipahami. Pervasive computing menjadi sebuah ajakan. Pemimpin Redaksi dipegang oleh Elwin Siregar dan Redaktur Pelaksana dijabat oleh Antyo Rentjoko, sementara Hendra Nizwar menjabat Redaktur Foto, dan Daru Paramayuga menjabat Redaktur Artistik serta awak redaksi sebanyak 7 orang.

Dalam satu tahun perjalanan komputerakt!f, Pimpinan Redaksi diserahkan ke Antyo Rentjoko dan Redaktur Pelaksana dipegang Farid Wahdiono, serta awak redaksi sebanyak 11 orang. Kemudian awak redaksi bertambah hingga total semua 16 orang. Selama dua tahun, Komputerakt!f cukup laku di pasaran dan sudah menemukan pangsa pasarnya. Sayang sekali sambutan pengiklan tak seantusias pembaca. Alasan mereka, antara lain, penampilan majalah terkesan childish dan pengertian "komputer" melebar ke mana-mana, terlalu luas. Selain itu, menurut pengiklan, komputerakt!f "jarang membahas hardware, lebih sering menyajikan panduan menggunakan software".

Penyesuaian yang dilakukan Redaksi atas anjuran Tim Bisnis (Harry Sunarko selaku Wakil General Manager Bisnis, AM. Elly Handojo selaku Manajer Iklan, dan C. Susy Tri Putranti selaku Asisten Manajer Pengembangan Bisnis Media Pengetahuan, Teknologi dan Umum) untuk lebih memanjakan calon pengiklan, atas permintaan bagian bisnis pada tahun ketiga komputerakt!f, tak membuahkan hasil menggembirakan. Iklan tak membanjir, pembaca kecewa.

Untuk beberapa saat komputerakt!f tampak sebagai majalah yang bingung. Hasilnya: pendapatan iklan tak bertambah, penjualan majalah mulai turun. Ketika formulasi redaksional dirumuskan ulang, ingin kembali memanjakan pembaca atas saran principal (VNU), pasar kadung kurang ramah dan banyak pelanggan meninggalkan komputerakt!f.

Tahun 2005 atas saran Tim Bisnis membuat sisipan Update yang nantinya dapat dipersiapkan sebagai pengganti kelak komputerakt!f tutup. Namun setelah berjalan satu tahun, rencana ini direvisi ulang oleh Tim Bisnis dan sisipan pun dihapus. Iklan tetap tidak kunjung datang kecuali iklan internal dan iklan sumbangan dari media lain di Gamedia Majalah.

Oktober 2006

Jajaran manajemen Gramedia Majalah yang diwakili Widi Krastawan selaku Direktur Kelompok Gramedia Majalah dan EW. Djati Surendro selaku Manajer Media Pengetahuan, Teknologi dan Umum (PT & U), melakukan pertemuan dengan awak redaksi Komputeraktif untuk membahas kelangsungan hidup redaksi. Dalam pertemuan ini disampaikan bahwa lisensi Komputeraktif tidak akan diperpanjang dan dihentikan pada Mei 2007.

Dalam pertemuan ini pula Widi Krastawan menjanjikan bahwa semua awak redaksi akan ditampung di majalah fotografi Snap yang saat itu menjadi by product Komputeraktif. Unit ini juga dinyatakan diminta untuk terus memproduksi buku-buku serta majalah by product yang terkait dengan komputer.


20 Maret 2007

Ada undangan rapat dengan SDM (Sigit Suryanto) dan Manajemen Majalah (Widi Krastawan dan Elwin Siregar) pada 21 Maret 2007 di ruang rapat Redaksi. Semua awak Redaksi wajib hadir, semua acara di luar kantor harus dibatalkan.

Sebegitu pentingnya? Saat itu, yang ada di benak kami tentang pertemuan tersebut adalah "hanya" acara pengukuhan secara resmi bahwa Komputeraktif jadi ditutup, dan kami akan disalurkan ke Snap, dan membuat By Product Komputeraktif yang untuk tahun 2007 ini sudah direncanakan, sejumlah 13 buku. Setiap awak redaksi bahkan sudah diserahi tanggungjawab untuk mengerjakan proyek By Product tersebut.


21 Maret 2007

Rapat antara Manajemen (Widi Krastawan dan Elwin Siregar yang merangkap 4 (empat) jabatan sebagai General Manager Redaksi Kelompok Majalah, Manajer Media Wanita, Pemimpin Redaksi Majalah What HiFi dan Pemimpin Redaksi Tabloid Nova), SDM (Sigit Suryanto selaku General Manager SDM dan Umum; Dominica Budhi Kristiani selaku Staf GM Bidang Legal, dan Sutinah selaku Staf SDM) dan Redaksi digelar. Isinya (pada awalnya) seperti yang kami duga, mas Widi Krastawan, mengumumkan bahwa kontrak Komputeraktif dengan VNU Inggris, tidak diperpanjang lagi per 10 Mei 2007. Kami sudah menduganya. Meski pada awalnya berat, kami sudah mulai merelakannya, jika memang tim Bisnis sudah menyerah. Toh, sounding dari mas Widi Krastawan dan Manajemen sebelumnya (Oktober 2006), disebutkan bahwa kami tetap akan ditampung dalam divisi yang sama.

Tetapi yang terjadi selanjutnya ternyata berbeda. Pelan-pelan Widi Krastawan sudah mulai menyinggung adanya Pengakhiran Hubungan Kerja (PHK). Dijelaskan bahwa ada kebijakan baru dari perusahaan yang akan membubarkan unit usaha (redaksi), jika produk yang dibuatnya merugi. Kebijakan ini katanya juga menimbang kebijakan lama, karena metode penitipan (baca: penyaluran) awak divisi yang dilikuidasi ke divisi lain tidak berjalan dengan baik. Divisi yang dititipi merasa bebannya bertambah, sementara sebagian besar orang yang dititipkan juga merasa tidak nyaman karena bidang yang ditangani tidak cocok dengannya.

Intinya, melihat kondisi divisi-divisi yang sudah ada, dan kemampuan awak Komputeraktif yang memiliki skill spesifik, maka pilihan untuk menyebarkan bekas awak Komputeraktif tidak bisa dilakukan. Sementara, mengenai pembuatan majalah baru, dikatakan bahwa pihak Bisnis dan Manajemen sepertinya sudah menyerah untuk fight di pasar komputer. Menurut mereka, kondisi pasar tersebut tidak seperti yang diharapkan.

Jadi, ditegaskan bahwa tidak ada majalah komputer baru. Sedangkan Snap, akan dicoba untuk diteruskan menjadi regular bulanan, dan sebelum maju ke korporat, akan dievaluasi dalam enam terbitan mendatang (terhitung mulai Mei 2007), apakah cukup menjanjikan atau tidak. Jika hasil evaluasi jelek, kemungkinan juga bakal dihentikan.

Nah, masalahnya dalam hitungan Manajemen, majalah Snap ini idealnya hanya dikelola oleh 5 orang. Dan ke-5 orang yang terpilih tersebut adalah 1 Redaktur Pelaksana (Farid Wahdiono), 2 Redaktur (Pramana Sukmajati dan Rismawan), 1 Reporter (Laksono Hari Wibowo), dan 1 Fotografer (Rano Kusuma). Jadi, dari jumlah 16 orang awak Komputeraktif, 11 orang di antaranya (terdiri dari 10 karyawan tetap dan 1 karyawan kontrak) bakal divonis PHK. Alasan pemberlakuan PHK yang disebut sebagai Pengakhiran Hubungan Kerja tersebut adalah penutupan unit usaha Komputeraktif, dan perusahaan melakukan EFISIENSI.

Jika alasan tersebut yang digunakan maka seharusnya PT Sarana Bobo selaku tempat bernaungnya majalah komputerakt!f harus dilakukan audit keuangan terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan langkah-langkah pemotongan gaji pimpinan, penggiliran jam masuk kerja, dan langkah strategis sebelum melakukan PHK.

Kembali ke rapat. Setelah pengumuman mengagetkan dari Widi Krastawan, giliran Sigit Suryanto yang mulai menjelaskan lebih lanjut mengenai teknis pelaksanaan PHK. Dalam kasus Komputeraktif, pihak Manajemen dan SDM mengatakan alasan PHK bukan karena kesalahan kami, maka perusahaan memutuskan perhitungan pesangon sebagai berikut:

  • Uang Pesangon, sebesar 2 x Masa Kerja x Upah (2x merupakan kompensasi karena bukan kesalahan karyawan )
  • Uang penghargaan, yakni Masa Kerja x Upah
  • Penggantian hak, senilai 15% x (nilai butir 1 + butir 2)
  • Pengantian cuti, yakni (Sisa Cuti/30) x GP

Perhitungan di atas adalah sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 tahun 2003, dan juga tercantum dalam Buku Biru. Selanjutnya, perusahaan juga memberikan tambahan berupa Uang Kebijakan, yang dihitung berdasarkan lama masa kerja. Formulanya adalah 2 x Masa Kerja x Upah (sama seperti perhitungan uang pesangon).

Ketika kami diberi waktu untuk bertanya, terus terang saat itu kami semua tidak bisa berkata apa-apa karena shock. Jika ada dari kami yang berbesar hati untuk mempertanyakan keputusan ini pun jawaban yang diberikan oleh pihak Manajemen terlalu berputar-putar, dan kami anggap tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Mungkin semua dari kami tidak habis pikir, mengapa bisa kami yang di-PHK, sedangkan kegagalan Komputeraktif selama ini adalah karena kurang/tidak adanya pemasukkan dari Iklan? Bukankah yang seharusnya lebih bertanggungjawab dalam hal ini adalah tim Bisnis? Bukannya yang perlu dibenahi adalah tim bisnisnya? Mengapa kami yang dikorbankan?

Jika melihat ke belakang, bagaimana kami dalam memproduksi Komputeraktif ini selalu berusaha mengakomodasi apa pun kemauan tim Bisnis, tanpa banyak tanya. Mau ke kanan, kami ikut ke kanan, ingin ke kiri, kami pun ke kiri. Kami selalu mendengar dan menerapkan berbagai rekomendasi dari tim Bisnis dan Manajemen. Bahkan, kami juga menerima ketika Bisnis mulai menggeser orientasi produksi kami dari "menyenangkan pembaca" ke "menyenangkan klien/calon pemasang iklan", yang ternyata ujung-ujungnya menyebabkan turunnya oplah.

Di akhir rapat, diumumkan juga bahwa SDM akan memanggil satu per satu dari kami yang di-PHK, untuk diberikan rincian secara lebih jelas berbagai hak yang akan diterima, dan juga kewajiban yang masih harus dipenuhi. Harus satu per satu karena sifatnya yang personal. Diinformasikan juga bahwa setelah pemanggilan tersebut, kami diberi waktu sekitar 3-5 hari untuk berpikir dan merenungkannya, dan akhirnya akan dipanggil lagi untuk melakukan penandatanganan tanda bersedia untuk menerima segala keputusan tersebut. Jadi, pilihannya adalah "ya" atau "ya", karena tidak ada opsi lain.

Rapat pun selesai, dengan menyisakan dua "kelompok" dari kami, yakni yang kena PHK, dan yang lolos PHK (calon tim Snap). Kami, terutama yang kena PHK, merasa keputusan ini sangat tidak adil. Tanda tanya besar yang muncul, mengapa yang dipecat pertama adalah kami, bukan tim Bisnis?

Kelompok yang lolos PHK pun juga hanya berdiam diri. Di satu sisi, senang bisa selamat dari PHK, namun kasihan dengan teman-teman yang kena PHK, dan di sisi lain,

mungkin mulai terbayang apa yang akan dan musti dihadapi. Bukan masalah ketidakmauan atau ketidakmampuan, untuk melanjutkan proyek majalah Snap! tidaklah gampang, apalagi dengan beban mental yang berat, hanya ditangani lima orang, disorot ekstra oleh pihak Manajemen, serta didukung tim Bisnis (Promosi dan Iklan) yang jauh dari solid. Tim Snap merasa seperti hanya diberi "perpanjangan waktu" untuk di-PHK.

26 Maret 2007

Setelah menimbang masak-masak, satu per satu dari tim Snap mulai mengumumkan untuk ikut bergabung ke daftar PHK. Pertimbangannya adalah tidak prospektif, pesimis, dan tangungjawab yang lebih besar. Daripada di-PHK 6 bulan lagi, plus ditambahi tuduhan tidak bisa bikin produk bagus, maka mending di-PHK sekarang saja. Sementara 1 orang memilih abstain dan mengembalikan keputusan ke Manajemen, karena alasan usia dan tanggungan keluarga.

Di hari yang sama, Manajemen dan PSDM (Widi Krastawan, Elwin Siregar, dan Sigit Suryanto) menemui ke-5 orang tersebut, dan detik itu juga memutuskan untuk menghentikan proyek Snap, karena tidak ada yang mengerjakan. Kami semua kaget dan tidak pernah menyangka ternyata begitu gampangnya menutup sebuah majalah. Padahal, saat itu kami sedang menyiapkan Snap edisi 8, dan sudah selesai setengah jalan. Perlu diketahui, di acara pameran Focus di JHCC beberapa waktu sebelumnya, Snap berhasil menggaet cukup banyak pelanggan, dan jika tidak salah ada lebih dari 300 pelanggan Snap yang sudah bayar di muka.

Sedangkan kami, kelompok yang dari awal di-PHK, merasa tidak puas dan minta
ketemuan lagi dengan Manajemen. Akhirnya disepakati untuk ketemuan keesokan harinya. Beberapa pertanyaan sudah kami kirim sebelumnya ke Manajemen, agar pertemuan tersebut bisa lebih lancar. Intinya, kami meminta penjelasan kembali tentang alasan PHK, dan menanyakan kemungkinan tawar-menawar untuk rumus pesangon yang sudah diumumkan.

27 Maret 2007

Rapat dengan Manajemen yang diwakili Widi Krastawan dan Elwin Siregar serta PSDM yang diwakili Sigit Suryanto kembali digelar (pagi hari, sebelum jadwal pemanggilan satu per satu dimulai, pada 27-29 Maret). Beberapa dari kami memberanikan diri untuk bertanya. Jawaban dari Manajemen soal PHK tetap sama. Intinya: unit tutup, tidak bisa melakukan penyaluran ke unit lain, serta dengan alasan EFISIENSI perusahaan, maka pilihan satu-satunya adalah PHK. Soal uang pesangon pun, dalam pertemuan tersebut, ditegaskan bahwa hitungannya sudah optimal dan tidak bisa ditawar lagi. Ya, di-PHK bukan karena kesalahan sendiri, pesangon pun tidak bisa nego. Artinya, kami dipaksa untuk menerima keputusan sepihak tersebut. Rapat – yang kami anggap tidak menghasilkan apa-apa – pun selesai. Kami merasa tak lebih dari sepah yang dibuang setelah manisnya terenggut.

Keputusan yang (kami anggap) mendadak dan sepihak ini tentu terasa lebih mengecewakan lagi bagi beberapa awak Redaksi: yang sudah terlanjur memiliki banyak tanggungan di luar kantor, ada juga yang pada Juli mendatang berencana mau menikah, atau yang istrinya baru saja hamil. Bayangkan dua bulan lagi menikah, perusahaan tempat ia bekerja malah mem-PHK-nya.

Sungguh rasa-rasanya tidak percaya, setelah kerja keras kami selama ini, sering mengorbankan waktu untuk keluarga karena harus lembur menyelesaikan tugas, ketika tenaga kami tidak terpakai, kami dibuang begitu saja tanpa harga.

Siangnya, kami mulai dipanggil satu per satu untuk dijelaskan tentang rincian pesangon yang akan diterima. Seperti dugaan dan perhitungan kami, nilai pesangon sangatlah kecil, menurut kami. Terlebih jumlah tersebut akan langsung dipotong, jika yang bersangkutan masih ada tanggungan utang (BRI, motor, dan lainnya). Kami menganggap nilai pesangon yang akan kami terima sangat tidak sebanding dengan: kekecewaan kami terhadap keputusan Manajemen, nilai kerja keras dan keloyalan yang kami berikan selama ini, hingga beban/perjuangan hidup kami ke depan (yang selama ini kami anggap aman hingga saat pensiun tiba).

SDM memberi kami waktu sekitar seminggu untuk berpikir, untuk kemudian menandatangani perjanjian sepakat.


30 Maret 2007

Sejumlah 9 orang dari awak Komputeraktif yang di-PHK, menyatakan keberatan dan ingin mengajukan penyesuaian terhadap uang kebijakan. Surat tertanda 9 orang tersebut diantar oleh Pemimpin Redaksi, Antyo Rentjoko ke SDM.

Sorenya melalui Antyo Rentjoko, Elwin Siregar memberi kabar ingin bertemu secara informal dengan Redaksi. Dijadwalkan jam 18.30, tetapi molor hingga sekitar jam 20.00 baru datang.

Elwin Siregar menyatakan ingin melunasi utangnya, yakni pengupayaan pemberian nilai kompensasi yang sesuai, yang menurutnya sudah merupakan effort yang habis-habisan.

"Bahwa tidak ada negosiasi, bukan karena kita bengis, tetapi itu yang terakhir. Ada proses yang setiap orang berbeda treatment-nya (perlakuannya)," kata Elwin Siregar.

Elwin Siregar menawarkan perhitungan baru untuk kebijakan, yang sebelumnya "2 x Masa Kerja x Upah", menjadi "3 x Masa Kerja x Upah". Perhitungan yang menurutnya sudah paling optimal tersebut akan diajukan ke CEO. Menurutnya, permintaan penyesuaian yang kami ajukan (12 x Masa Kerja x Upah) adalah mustahil untuk diperjuangkan, karena Elwin Siregar tahu persis bakal tidak mungkin disetujui oleh CEO. Padahal, maksud dari pengajuan tersebut adalah akan adanya negosiasi (tawar-menawar layaknya jual-beli di pasar). Dan angka 12 tersebut bukanlah harga mati, karena kami berharap bakal ketemu titik yang paling pas, melalui proses nego yang kami harapkan terjadi.

Tetapi Elwin Siregar mengatakan bahwa ia tidak suka tawar-menawar, dan langsung mengeluarkan penawaran tertinggi, yakni 3x. Sebagai landasan pengajuannya, Elwin Siregar akan membawa contoh kasus Pramana Sukmajati selaku Redaktur komputeraktif), yang dalam hal ini sebagai karyawan yang belum lama melakukan peminjaman ke BRI dengan nilai cukup tinggi, sementara bakal yakin bisa melunasi pinjaman tersebut secara menyicil dengan gajinya hingga 3 tahun.

Menurut Elwin Siregar, kebijakan yang akan diupayakan ini akan berimbas ke semua awak Komputeraktif, bukan hanya untuk 9 orang yang berjuang. Elwin Siregar minta waktu sekitar seminggu untuk mengadakan pertemuan dengan CEO. Gue janji akan usaha, tetapi bukan janji hasil.

"Kalau gue failed, ya udah, gue bikin appoinment."

Artinya, Elwin Siregar memberi jalan kepada kami – yang tetap tidak puas dengan yang diupayakan tersebut – untuk melakukan nego langsung dengan korporat. Tetapi ada sinyal negatif yang diisyaratkan.

"Ketika lo ke korporat, artinya lo udah melewati kita, kan? Ketika lo berhasil, ya itu rezeki lo. Tapi kalau lo nggak berhasil, dan lo dibalikin ke kita, berarti lo ke Disnaker atau PHI, karena sudah tidak ketemu (tidak ada kesepakatan). Karena kita sudah sepakat untuk tidak sepakat, jadi yang main adalah legal, dan tidak ada lagi kebijakan."

"Nama baik lo yang sudah lo tanam itu akan menjadi berbeda ketika kita berseberangan. Terserah mau lo anggap ini permohonan atau apa, tapi, please, jangan sampai kita berseberangan."

Ketika ditanya apakah pemutusan hubungan kerja ini adalah kebijakan baru (CEO baru), Elwin Siregar tidak membenarkan. Semua kebijakan yang ada, pasti diketahui Jakob Oetama. Pun ketika disinggung tentang PHK lebih dari 10 orang yang merupakan PHK massal, menurut Elwin Siregar, pernyataan tersebut adanya di peraturan lama (tahun 2000), sedangkan di peraturan baru (2003) tidak ada yang menyebutkan seperti itu.

Setelah proses ini sebenarnya hampir setiap hari redaksi kedatangan "tamu" dari manajemen Gamedia Majalah yang merupakan "konco-konco" Elwin Siregar. Mereka berupaya mengubah opini dan pandangan kami agar menyetujui keputusan yang disampaikan Elwin Siregar. Ada yang menyampaikan dengan cara halus namun ada yang seolah berupaya mengintimidasi redaksi.


5 April 2007

Pertemuan informal berikutnya antara Elwin Siregar dan Redaksi dijadwalkan kembali. Hampir sama, Elwin Siregar memberi kabar terlebih dahulu melalui Pemimpin Redaksi, bahwa sekitar jam 18.30 akan datang. Kali ini lebih tepat. Elwin Siregar melaporkan ke Redaksi tentang hasil pertemuan antara tim manajemen Gramedia Majalah (Elwin Siregar dan Widi Krastawan) dan SDM Gramedia Majalah (Sigit Suryanto) dengan CEO Agung Adiprasetyo yang berlangsung pada 4 April 2007 di Hotel Santika, Jakarta.

Disampaikan Elwin Siregar, bahwa menurut CEO, jika permohonan penyesuaian kebijakan (pesangon) disetujui, maka (dikhawatirkan) akan menjadi standar buat semua di KKG. Nah, standar tersebut tentu harus dipakai terus, karena orang tidak akan mau memakai standar baru sementara sudah ada preseden sebelumnya. Kecuali, jika bicara tentang peraturan. CEO menegaskan bahwa ini bukan peraturan, melainkan kebijakan, yang notabene di atas itu. Jadi, harus ada titik akhirnya, dan diputuskan untuk kembali ke nilai semula (2 x masa kerja x upah).

Menurut Elwin Siregar, ada tarik-ulur yang diupayakan dengan menceritakan bahwa ada awak Redaksi yang sebentar lagi menikah, atau baru saja pinjam/utang BRI, dan sebagainya. CEO bisa mengerti, tetapi dia minta posisinya sebagai CEO dimengerti juga, karena jika kebijakan dinaikkan maka khawatir akan menjadi preseden dan menjadi standar. CEO juga tidak keberatan jika akhirnya Redaksi harus ketemu dengan CEO maupun Jakob Oetama.

Elwin Siregar bilang, "Kalau gue masih boleh ngasih saran, sih, gue masih dengan yang kemarin, (yakni masalah ini diharapkan bisa) selesainya di Gramedia Majalah. Dengan demikian, hubungan kita masih OK. Artinya, akan diprioritaskan kalau ada gawean. Dari omongan kemarin, sih, kaya'nya sampai ke JO pun nggak berubah. Nah pertanyaannya, kalau udah sampai ke JO nggak, terus lo mau ke mana?"

Elwin Siregar menggambarkan tentang pertemuan dengan CEO, bahwa CEO tidak merasa tersinggung atau tertekan dengan kondisi ini. Bahkan, CEO mengatakan bahwa tidak akan melupakan (jasa) anak-anak Komputeraktif, asal masalah ini selesai dulu.

Elwin Siregar juga menyampaikan bahwa KKG banyak proyek, dan gawean itu selalu ada, seperti akan mengincar inhouse magazine (Kid Mag – kerjasama dengan Kid's Station), Ensiklopedia, dll, yang akan memperkerjakan tenaga outsource. Pendapatan yang ditargetkan adalah sebesar Rp 10 miliar. Unit tersebut akan menjadi cikal bakal kantor kecil dengan penghasilan besar, karena orangnya disebar. Mereka tidak perlu datang ke kantor, tetapi bisa mengerjakan di mana saja.

"Artinya, jika omong masalah prioritas dan gawean yang ada, berarti klop. Dan itu segera setelah legalnya beres," kata Elwin Siregar. Legal beres ini bukan secara Komputeraktif, tetapi secara individu.

Logikanya adalah kita tidak perlu kenalan lagi. Kalau mau mendaftar silakan, tetapi yang kemarin (hitungan masa kerja) 5 tahun akan menjadi 0 tahun, karena hubungan sebelumnya sudah selesai.

Terus, mengapa jika KKG banyak proyek tetapi kok ada PHK? Menurut Elwin Siregar, teman-teman di Komputeraktif adalah berada di satu brand, yang setelah berjalan 5 tahun dinilai prospeknya nggak ada. Karena secara bisnis harus ditutup, berarti orang yang ada di situ aktivitasnya jadi nggak ada. Tetapi Gramedia Majalah terus bergulir dengan segala kebijakan. Salah satu kebijakannya adalah proyek yang disebut tadi, dan dikerjakan oleh tenaga outsource. Dengan demikian, beban karyawan menjadi kecil, karena karyawan itu ada tanggungan anak, kesehatan, dll. Bahkan setelah permberitahuan ini ada beberapa iklan lowongan kerja dari Gramedia Majalah.

Hasil iming-iming dan ancaman Elwin Siregar ternyata mengubah pendirian dua orang karyawan yang sebelumnya mengajukan peninjauan uang kebijakan, akhirnya kecewa dan memilih menanda tangani surat pengakhiran kerja.

10 April 2007

Delapan karyawan Komputeraktif dipanggil satu per satu untuk membicarakan kembali pengakhiran hubungan kerja dan jika tidak keberatan dengan apa yang diberikan perusahaan, bisa langsung menandatangani surat pengakhiran kerja (surat pengunduran diri). Dari delapan karyawan, enam diantaranya yang sudah pasrah dengan nasibnya akhirnya satu per satu menandatangi surat tersebut. Dua karyawan lainnya minta waktu dua hari untuk berpikir.Ternyata di surat tersebut ada perbedaan besaran nominal uang pinjaman utang BRI sebesar Rp 2 juta dari yang diberitahukan sebelumnya. Setelah karyawan melakukan konfirmasi ke BRI Kota ternyata kesalahan ini ada di pihak PSDM Gramedia Majalah yang belum memasukkan bunga pinjaman, yang disebutkan sebelumnya hanya utang pokok aja. Lho kok PSDM bisa ceroboh ya? Karyawan pun semakin kecewa dengan perlakuan perusahaan terhadap mereka, namun enggan untuk memperpanjang masalah dan ingin cepat menyelesaikan persoalan ini.

11 April 2007

Sebanyak tujuh karyawan lainnya yang diwakili Sdr. D. Ardhy Artanto dan Aditya Wardhana mengadakan pertemuan lanjutan dengan pihak perusahaan, dalam hal ini SDM Gramedia Majalah, untuk membahas kelanjutan dari permohonan peninjauan kembali uang kebijakan pengakhiran hubungan kerja.

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam ternyata tidak memberikan harapan terhadap penyesuaian uang kebijakan yang kami ajukan. Pihak SDM yang diwakili Sigit Suryanto selaku General Manager SDM dan Umum Kelompok Majalah dan Isnu Hardoyo selaku Staf Kepala Bagian Kelompok Majalah Bidang Hubungan Industrial juga tidak membuka kesempatan untuk bernegosiasi lebih lanjut. Akhirnya pihak SDM dan kami menyepakati untuk membawa masalah ini ke pihak korporat perusahaan.

Kedua pihak membuat surat pemberitahuan kepada PSDM Gramedia untuk menyediakan waktu guna membahas masalah tersebut. Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan di tingkat korporat.

11-13 April 2007

Mengirim surat ke SDM Korporat dengan tembusan ke CEO. Ada tanggapan dan panggilan dari CEO melalui SMS dari sekretaris untuk bertemu pada tanggal 17 April 2007. Jadwal ketemuan (sehari lebih awal) juga datang dari pihak SDM Korporat.

16 April 2007

Siang itu, tujuh karyawan (D. Ardhy Artanto, Aditya Wardhana, Rano Kusuma, Ariyo Praditiyo, Yuliandi Kusuma, Viky Hendrizal, dan Andy Baskoro) didampingi Antyo Rentjoko dan Sigit Suryanto bertemu dengan PSDM Korporat, yang diwakili Drs. G. Maryamto Sunu, MS selaku Direktur PSDM KKG dan Untung Herminanto, Kepala Bidang Hukum dan Hubungan Industrial KKG. Karyawan, yang diwakili D. Ardhy Artanto, menyampaikan aspirasi, permohonan untuk pertimbangan kompensasi, hingga pemberian solusi. Sementara Sunu lebih memberikan pandangan global perusahaan, dan bertekad mendukung apa yang menjadi program CEO.

Selama pertemuan, Maryamto Sunu lebih banyak membeberkan mengenai sejarah KKG hingga kebijakan baru yang dilakukan CEO. Karyawan menanyakan kembali keadilan mengenai penutupan komputerakt!f yang alasannya adalah efisiensi. Padahal di "tubuh" Gramedia Majalah sendiri banyak majalah yang secara bisnis merugi namun tetap dipertahankan hingga kini. Tujuh karyawan juga menanyakan tentang sejumlah karyawan Gramedia Majalah yang memiliki masa kerja lama namun tidak memiliki jabatan dan media. Mereka hanya luntang-lantung saja atau bahkan merangkap beberapa jabatan yang sebenarnya tidak efisien. Ada juga beberapa bekas Pemimpin Redaksi yang terkumpul di satu media sehingga beban penggajian mereka tinggi.

Pihak PSDM Korporat tidak bisa memberikan jawaban mengenai program efisiensi yang dimaksud. Begitu pula ketika ditanya "Kenapa yang harus menjadi korban adalah Redaksi, sementara bagian Bisnis tidak menjadi korban juga?" Maryamto Sunu hanya memberikan jawaban "Itu kebijakan yang berbeda.". Pertemuan selama sekitar dua jam tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Lebih sebagai sekadar jembatan untuk menuju ke CEO, di samping pihak SDM Korporat sudah mengetahui ada jadwal pertemuan karyawan dan CEO pada esok hari.

Di akhir pertemuan, Pemimpin Redaksi menegaskan bahwa apa yang ditempuh karyawan tersebut adalah upaya dengan itikad baik, penuh kesopanan, sesuai prosedur, dan menginginkan penyelesaian secara kekeluargaan. SDM Korporat pun berjanji akan segera menyampaikan hasil pertemuan tersebut ke CEO sebelum karyawan bertemu.


17 April 2007

Jam 9 pagi, rombongan yang sama (tujuh karyawan, Antyo Rentjoko, dan Sigit Suryanto) menghadap Agung Adiprasetyo, selaku CEO Kelompok Kompas Gramedia. Seperti hari sebelumnya, D Ardhy Artanto mewakili karyawan, menyampaikan keluhan dan sejumlah pertanyaan yang mempertanyakan seputar kebijakan yang dikeluarkan, permohonan pertimbangan ulang mengenai kompensasi, hingga kritikan terhadap berbagai proses kebijakan. Intinya menyangkut ketidakadilan dan kemanusiaan.

CEO bisa memaklumi, namun lebih memandang dan menggarisbawahi dari aspek bisnis, dengan memberikan berbagai contoh tentang kasus serupa di unit lain. CEO menyampaikan bahwa sekitar 1-2 tahun lalu sudah memperingatkan kepada manajemen Gramedia Majalah mengenai kelangsungan hidup majalah komputerakt!f tersebut. Menurut beliau, majalah komputerakt!f secara positioning kurang mengena di pasaran, dan akan dibawa ke mana? Namun, karena unsur "kemanusiaan" itulah maka peringatan tersebut tidak disampaikan oleh jajaran manajemen Gramedia Majalah (Widi Krastawan dan Elwin Siregar) sehingga menjadi semacam bom waktu.

Dalam forum ini, CEO juga menyatakan bahwa terdapat kesalahan prosedur pada proses penyampaian pengakhiran kerja oleh manajemen dan SDM Gramedia Majalah, di mana informasi tersebut tidak dilakukan dari jauh-jauh hari. Pihak karyawan juga menyatakan bahwa tidak menggugat kebijakan CEO yang melakukan perampingan karyawan dan unit bisnis, namun menuntut adanya keadilan. CEO juga menegaskan jika ada kerugian bisnis di setiap unit maka secara otomatis unit tersebut yang akan ditutup, bukan perusahaannya. Bukankah sebenarnya unit komputerakti!f tidak bisa berdiri sendiri dan harus bernaung di bawah perusahaan, dalam hal ini PT Sarana Bobo yang notabene masih untung. Mengenai kebijakan ini belum ada sosialisasi sebelumnya.

Kebijakan ini sebenarnya bisa kami terima – seperti rekan-rekan di media lain – apabila telah diberitahukan saat pertemuan dengan manajemen Gamedia Majalah pada bulan Oktober 2006. Rekan-rekan di media lain mungkin lebih siap dibanding komputerakt!f karena kabijakan ini sudah tersiar dan bisa mempersiapkan diri lebih baik jika masalah serupa menimpa mereka.

Karyawan berupaya menghindari proses pengakhiran hubungan kerja ini ke pihak ketiga (Dinas Tenaga Kerja dan Pengadilan Hubungan Industrial), kecuali dalam keadaan terdesak. Karyawan masih menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan satu saudara serta menyelesaikannya secara internal.

Agung menyatakan belum bisa memberikan keputusan atas masalah ini segera. Beliau juga mempersilakan pihak karyawan jika ingin berbicara dengan Bapak Jakob Oetama, selaku pendiri perusahaan, mungkin memberikan solusi yang lebih tepat dan manusiawi.


lainya:

ppiindia

LBH pers

indymedia
hukum online



3 comments:

kusaeni said...

wah sayang sekali , padahal aye adalah salah satu pecinta KA, walau gak langganan , tapi tiap terbit bela - belain beli.

lagi pula KA gak childish banget kok. Justru isinya berbobot, tulisannya bagus dan bermanfaat. Jauh lebih mudah dicerna daripada majalah kompuetr yang lain such as ; komputek.

Semangat KA , saya dukung perjuangannya.

* berharap KA idup lagi.

Tongam said...

Kalau boleh dipertimbangkan lagi deh. Kalau soal oplah yg menurun, coba ganti manajemen atau personil aja. Jangan KA nya yg ditutup. Banyak rakyat yg terbelajarkan lewat media ini. Saya sebenarnya tau majalah ini ketika situs saya terpilih di salah satu tahun 2003. Terus terang majalah ini pula yg membuka mata saya untuk lebih tekun menggeluti dunia web design. Dan kini bagi saya KA tetap berjasa. Jika ada yg bisa saya lakukan utk menghidupkan majalah ini lagi, saya akan lakukan sebisa saya. Saya sedih dgn penutupan ini. Pertimbangkan lagilah.

Biyanboyzz said...

KOMPUTER AKTIF!! AKU CINTA BANGET!!!

Hyah...padahal baru sebentar ketemu...lalu kucari engkau...DIMANA SIH? KOK PCMEDIA AJA ADA DI PEDAGANG JALANAN...KOK KA KA-GAK ADA SIH?

Eh....ternyata ditutup.
Wuah...dibandingkan majalah CHIP yang lagi beredar...KA bener2 paling top. CHIP menggunakan bahasa planet 2012 (wkwkwk) yang ruwet dan kadang ada yang bahasa Jerman.

Kalau KA, baru....simpel tapi ilustrasinya fun! Fun dengan warna yang ngejreng...tapi masih terkesan sederhana. Ilustrasi, Tips dan semuanya asik banget!

Tapi kok ditutup...trus majalah barunya apaan tuh yang ngantiin KA? Gw cari tu majalah trus gw gebukin...wkwkwkw...

Tapi well....turut berduka cita neeh...